Indonesia’s Training Media

Just another WordPress.com weblog

Emerging Market Masih ‘Seksi’

leave a comment »

Dr Mark Mobius (Ist)

Jakarta – Berinvestasi di negara-negara emerging market sering dianggap berisiko tinggi, meski return-nya lebih besar. Meski risikonya besar, namun peluang berinvestasi di emerging market masih besar.

Hal tersebut disampaikan Presiden Templeton Emerging Markets Fund, Inc. yang juga merupakan pakar investasi di emerging market Dr. Mark Mobius dalam seminar bertajuk ‘Opportunities in Emerging Market and The Diversification Strategies to Ride The Volatility’ di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (10/4/2007) malam.

“Salah satu indikator mengapa investasi pada emerging market sangat bagus adalah karena pertumbuhan PDB-nya lebih cepat dibandingkan dengan negara yang sudah maju,” ujarnya.

Emerging market adalah pasar keuangan negara-negara berkembang yang biasanya memiliki kapitalisasi rendah dengan sejarah yang pendek, seperti Indonesia, Cina, India, Brasil, Meksiko, Turki dan lainnya.

Mobius menambahkan, penurunan laju inflasi dan juga suku bunga pada negara-negara yang termasuk pada emerging market saat ini membuka peluang yang lebih besar untuk berinvestasi.

“Kita lihat bahwa suku bunga AS masih flat, sehingga pergerakan sektor-sektor usaha di negara-negara berkembang akan berjalan,” jelasnya.

Negara-negara emerging market pun dinilai Mobius lebih tahan gempuran kenaikkan harga minyak dunia. “Dana mereka (emerging market) cukup untuk memenuhi kebutuhan yang berkurang,” ujarnya.

Sementara jika dilihat dari segi nilai tukar mata uang, investasi pada emerging market terhitung sangat murah.

“Dari segi mata uang masih banyak nilai tukar mata uang di negara-negara berkembang yang masih under value jika dibandingkan dengan dolar AS,” jelasnya.

Keuntungan lainnya yang ditawarkan dari investasi di emerging market adalah dari sektor pasar saham. Menurut Mobius, saham-saham di negara berkembang menawarkan dividen yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan saham-saham di negara maju. “Nilai return on equity-nya pun sangat baik,” ungkapnya.

Meski demikian, Mobius mengakui bahwa risiko investasi di emerging market lebih tinggi ketimbang negara maju seperti AS, resiko investasi di negara berkembang cukup tinggi. “Tapi jika secara kesatuan emerging market, maka risikonya terhitung kecil,” ungkapnya.

Untuk meredam risiko tersebut, Mobius menyarankan agar para nasabah melakukan analisa pasar yang lebih. “Hal ini positif bagi nasabah itu sendiri, karena dengan sendirinya mereka akan bisa membaca situasi,” jelasnya.

Dalam acara yang sama, pakar investasi yang menjabat Head of Product Asia Schroder Investment Management Ltd. Rupert Rucker mengatakan bahwa peluang investasi terbesar pada emerging market adalah pada pasar komoditi.

“Ada 33 komoditi yang diperdagangkan di dunia, karena itu peluang investasi di komoditi masih sangat besar, dan sebagian besarnya dihasilkan oleh negara-negara berkembang yang termasuk dalam emerging market,” ujarnya.

Rupert mengatakan bahwa perkembangan harga komoditi di dunia sedang dalam tren peningkatan.

“Harga komoditi energi mulai meningkat sejak 2002, untuk metal naik sejak 2005, sementara komoditi agrikultur meningkat sejak 2006, dan jika dibandingkan dengan pasar modal dan obligasi, alokasi dana investasi di komoditi masih sangat kecil,” jelasnya.

Dari sudut pandang supply and demand, Rupert mengatakan bahwa tren permintaan komoditi di dunia semakin meningkat. “Sementara suplainya sangat sedikit, dan hal ini yang menyebabkan tren harga komoditi akan meningkat, apalagi untuk komoditi minyak bumi dimana tren permintaan terus meningkat,” jelasnya.

Khusus untuk komoditi hasil agrikultur, menurut Rupert imbal hasil dari komoditi ini stabil sehingga peluangnya bagus. “Untuk jagung saya perkiraan permintaannya meningkat karena jagung merupakan bahan baku penting untuk ethanol, dan ke depannya permintaan jagung akan meningkat,” ujarnya.

“Jadi komoditi menjadi peluang investasi yang bagus pada emerging market, karena dalam 3 hingga 4 tahun ke depan perkembangan harga beberapa komoditi akan meningkat terus,” ungkapnya.

Rupert mengatakan bahwa dengan investasi pada komoditi, nasabah berarti mendiversifikasi risikonya.

“Risiko di pasar modal, obligasi dan komoditi berbeda-beda, sehingga nasabah memiliki portfolio investasi yang berimbang untuk menghadapi berbagai kondisi pasar,” ujarnya.

Written by brammantya kurniawan

July 25, 2008 at 8:20 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: